Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 13 July 2021

UPAYA MENGATASI PENYAKIT ANAPLASMOSIS PADA TERNAK

Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

Widyaiswara Ahli Utama.

 

 

Anaplasmosis merupakan penyakit  yang disebabkan oleh  Anaplasma sp. yang dapat bersifat akut dan kronis yang ditandai dengan adanya demam, anemia, ikterus dan kekurusan, hemoglobinuria, abortus dan kematian.  Hewan yang diserang oleh parasit ini adalah sapi, kerbau, unta, babi, domba, kambing, anjing dan hewan liar. Di Indonesia Anaplasmosis disebabkan oleh Anaplasma marginale. Pertama kali ditemukan pada kerbau (Blieck dan Kaligis, 1912). Penyakit ini ditularkan melalui vektor  caplak  yaitu  Boophilus  microplus  yang  tersebar  luas  di  Kepulauan Indonesia (Zwart, 1959). Anaplasmosis dapat mengakibatkan terjadinya penurunan bobot badan ternak, peningkatan kerentanan terhadap penyakit lain, dan penurunan tingkat reproduksi sehingga dapat merugikan secara ekonomi (Benavides dan Sacco, 2007).

 

Anaplasmosis terjadi pada musim semi dan musim panas, tapi outbreak bisa saja terjadi pada setiap saat. Banyaknya jalur penyebaran dan banyaknnya hewan yang berpotensi untuk menjadi carrier membuat sumber outbreak menjadi sulit untuk di ketahui. Jika outbreak terjadi pada musim panas atau semi, maka sumber infeksi bisa di duga berasal dari vektor serangga. Jikalau outbreak terjadi setelah 3 - 6 minggu sapi dirawat, maka di duga sapi tersebut tertular dari sapi yang telah terjangkiti selama proses perawatan. Jika outbreak terjadi pada waktu yang lainnya, kedatangan sapi baru atau meningkatnya faktor stress  harus di pertimbangkan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya infeksi. Ketika banyak terjadi outbreak, maka hal ini menunjukkan bahwa terdapat hewan carrier pada kawanan sapi, karena hewan carrier adalah sumber infeksi yang efisien.  Hewan carrier membawa anaplasma dalam tubuh mereka, tapi tidak menunjukkan gejala klinis dan mampu menginfeksi hewan lainnya. Kemudian, hewan yang tampak sakit secara klinis menjadi sumber penyebaran penyakit iniAnaplasmosis dibagi menjadi empat bentuk yaitu, bentuk ringan, perakut, akut dan kronis. Bentuk ringan biasanya menyerang anak sapi sampai umur satu tahun dan gejalanya sering tidak teramati. Kalaupun dapat terlihat gejalanya hanya bersifat sementara seperti depresi, kehilangan nafsu makan,  bulu  suram,  penurunan  kondisi  tubuh,  konstipasi  dan  kadang-kadang keluar eksudat mukopurulen dari mata dan hidung.

 

Bentuk perakut merupakan bentuk paling hebat, biasanya fatal dan hewan yang diserang mati beberapa jam setelah penularan. Sapi yang diserang seringkali diatas umur tiga tahun terutama sapi ras murni atau sapi-sapi yang bereproduksi tinggi. Gejala yang nampak terutama depresi hebat, seringkali terlihat gerakan inkoordinasi, demam tinggi, hipersalivasi, respirasi cepat dan aliran susu terhenti

 

Bentuk akut adalah bentuk yang sering ditemukan. Serangannya yang paling hebat ditemukan pada sapi-sapi pada puncak pertumbuhannya. Gejala yang terlihat  adalah    kenaikan  suhu  tubuh  menjadi  400C  ataupun  lebih,  walaupun demam ini kurang nyata pada beberapa kasus, kemudian depresi, respirasi dipercepat, nafsu makan berkurang, pulsus meningkat, konstipasi, atoni rumen dan aliran susu terhambat

 

Anaplasma. marginale merupakan spesies yang mempunyai prevalensi tertinggi dan  tersebar diseluruh  dunia  (Kocan  et  al.  2003). Spesies ini  sangat patogen terutama pada ternak muda sampai dengan umur 2 tahun, yaitu menyebabkan penyakit yang mengakibatkan anemia progressif dan kekuningan/icterus. Gejala  klinis  pada ruminansi berupa  anemia,  demam,  kehilangan  berat  badan, kekuningan (jaundice), hemoglobinuria, penurunan produksi susu, aborsi, dan akhirnya mengalami kematian. Pada sapi potong dan sapi perah ditandai adanya demam, anemia, dan kekuningan, masa inkubasii selama 3-6 minggu, dapat ditularkan melalui vektor biologis (caplak ixodida) dan vektor mekanis (tabanid, musca) atau droplet yang terkontaminasi. Transmisi secara mekanis oleh darah yang terinfeksi dapat terjadi beberapa menit karena parasit tidak dapat hidup lama di luar tubuh pejamu (Whittier et al. 2009).

 

Setelah  sembuh  dari infeksi  pertama  ternak akan menjadi karier secara persisten dalam jangka waktu yang panjang atau bahkan seumur hidup (Kocan et al. 2000). Deteksi pada hewan karier sangat penting untuk epidemiologi penyakit karena berperan sebagai reservoir bagi caplak dan berpotensi menyebarkan pada lokasi baru (Nair et al. 2013). Infeksi persisten ditandai dengan siklus ricketsemia berulang dengan eritrosit terinfeksi antara 102,5-107 eritrosit/ml dapat terjadi setelah sembuh dari anaplasmosis akut (Frenchet al. 1998). Diagnosis anaplasmosis pada sapi secara umum dilakukan dengan menggunakan ulas darah tipis dengan pewarnaan Giemsa dilakukan untuk mendeteksi A. marginale dari hewan yang terinfeksi secara klinis pada fase akut. Metode berbasis mikroskop tidak dapat digunakan untuk mendeteksi ricketsemia rendah pada hewan karier di samping karena morfologi anaplasma dalam sel darah merah sulit dibedakan dengan Heinz bodies dan artefak pewarnaan (Noaman et al. 2010). Peneguhan diagnosis anaplasmosis dapat dilakukan berdasarkan pemeriksaan parasitologis (ulas darah tipis) dan PCR.

 

Anaplasmosis dapat     diobati     dengan     tetracycline tetapi     proses kesembuhannya lama. Pengendalian dari penyakit ini dapat menggunakan banyak faktor. Penting untuk memperhatikan jarum atau alat-alat yang terkontaminasi. Ketika  ingin  melalukan  penyuntikan  ke  kelompok  jarum  diganti  dan  pisau kastrasi, alat pemotong tanduk atau instrument  tattoo disimpan dan diberikan desinfektan (Powell, 2010).

 

Perawatan terhadap penyakit anaplasmosis paling efektif jika dilakukan pada saat awal kejadian penyakit. Dosis Tunggal "long Acting" Oxytetracycline (misal LA-200) diinjeksikan secara subkutan dengan ukuran 9 mg per pon berat badan. Transfusi darah kadang diperlukan. Hewan yang sakit pada stasium yang lebih lanjut biasanya tampak sangat anemik, sehingga handling selama pengobatan hewan tersebut malah akan membuat stress hewan tersebut dan membunuhnya. Juga terdapat bukti bahwa pengobatan dengan antibiotik pada stadium lanjut ini tidaklah efektif (Richey, 1999) Sehingga, tidak di rekomendasikan pengobatan menggunakan antibiotik pada ternak penderita yang sudah sangat lemah dan tidak berdaya. 

 

Semua hewan yang terpapar terhadap anaplasosis harus di berikan akses yang memadai terhadap pakan dan air, dan harus ditempatkan pada kandang yang bebas dari gangguan (faktor stress). Dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk hewan penderita supaya dapat sembuh. Dan keduanya, baik hewan yang di obat maupun yang tidak, setelah sembuh akan menjadi carrier. Hewan carrier dapat di bebaskan dari anaplasma dengan pemberian "long actingZ" Oxytetracycline secara injeksi denan dmi barengi dengan pemberian Chlortertracycline yang di campur dengan pakan.

 

Hewan dengan umur lebih dari 6 bulan atau hewan yang baru masuk harus terlebih dahulu di berikan vaksinasi terhadap anaplasmosis. Proses vaksinasi tidak akan mencegah proses infeksi, namun akan menurunkan level keparahan gejala klinisnya. Proses vaksinansi dilakukan dengan suntikan vaksinasi yang pertama, baru kemudian di ulang lagi setelah 4 minggu. Kedua vaksinasi tadi, harus dilakukan 2 minggu sebelum mulainya musim vektor penyakit ini. Mencegah penjualan hewan carrier, selama musim vektor dapat digunakan chlortetracycline dengan dosis yang lebih tinggi, hewan yang sedang mengalami treatment supaya tidak terjual.