Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 01 July 2021

MORFOMETRIK DAN PUBERTAS SEBAGAI SYARAT SAPI DARA DIKAWINKAN

Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

Widyaiswara Ahli Utama.

 

 

Pembibitan sapi merupakan salah satu sarana produksi yang memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya peningkatan jumlah dan mutu produksi sapi Pasundan agar terciptanya produk hasil sapi Pasundan yang berdaya saing tinggi. Pembibitan ternak diarahkan agar mampu menghasilkan         bibit ternak yang memenuhi persyaratan mutu untuk didistribusikan dan dikembangkan lebih lanjut oleh instansi pemerintah, masyarakat maupun badan usaha lainnya yang memerlukan upaya pengembangan peternakan secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi

 

Usaha pemeliharaan sapi potong secara industry pada  akhir-akhir     ini     semakin berkembang.  Perkembangan  industry  sapi potong didorong oleh semakin meningkatnya permintaan  daging  dari  tahun  ketahun, sementara   itu   pemenuhan   akan   kebutuhan daging selalu kurang.  Bobot badan sapi merupakan salah satu indicator produktivias ternak yang dapat diduga berdasarkan ukuran linear tubuh sapi meliputi lingkar dada, panjang badan dan  tinggi badan. Peternak biasa menggunakan bobot badan hidup sapi sebagai keberhasilan pemeliharaan dan pertumbuhan sapi yang telah dipelihara apakah sesuai dengan harapan atau tidak. Pada bidang pemasaran bobot badan sapi sangat berpengaruh pada penentuan harga. Pertambahan bobot badan pada hewan menyebabkan   hewan   tersebut   menjadi   lebih besar dan diikuti dengan semakin menambah kekuatan dan kesuburan otot-otot penggantung Musculusserratus ventralis dan Musculuspectoralis yang terdapat didaerah dada,sehingga pada gilirannya ukuran lingkar dada semakin meningkat.

 

Masalah yang sering dihadapi dalam mengukur  bobot  badan  ternak  dalam  jumlah yang  besar  serta  biasanya  tidak  dikandangkan adalah   membutuhkan   peralatan,   tenaga   dan waktu yang banyak sehingga pekerjaan menjadi tidak efektif dan efisien. Dalam  usaha  untuk mengatasi kendala yang dihadapi jika alat ukur untuk menduga bobot  badan  ternak  yang  berkapasitas  besar tidak tersedia, dapat dilakukan penaksiran bobot badan ternak tersebut dengan menggunakan dimensi tubuhnya. Misalnya melalui panjang badan  dan  juga  lingkar  dada,  Karena  lingkar dada   seekor   ternak   memiliki   korelasi   yang sangat kuat untuk menduga bobot hidup ternak .

 

Pedagang sapi dan jagal yang sangat berpengalaman dapat menduga kemungkinan bobot karkas dari sapi hidup dengan ketetapan yang tinggi dengan melihat, tetapi kemampuan demikian tidak sama pada setiap pemilik ternak, kecuali  para  pemilik  ternak  mempunyai beberapa   petunjuk.   Perkiraan   tentang   bobot hidup adalah suatu tafsiran yang mungkin sangat jauh  dari  kenyataan.  Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan mengukur panjang badan dan lingkar dada. Terdapat beberapa rumus penduga bobot badan ternak menggunakan lingkar dada yaitu Schoorl, Winter, dan Denmark. Diantara rumus-rumus pendugaan bobot badan tersebut. Rumus Schoorl diperkirakan sebagai rumus yang paling akurat terhadap bobot badan ternak sebenarnya. Rumus-rumus tersebut dapat digunakan  untuk  sapi,  kambing,  domba,  babi, dan kerbau. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pengukuran badan ternak yang meliputi panjang badan adalah panjang dari titik bahu ketitik tulang (pin bone) dan lingkar dada diukur pada tulang rusuk paling depan persis pada belakang kaki depan.

 

Pendugaan bobot hidup dengan pita ukur menghasilkan bobot hidup yang sangat nyata lebih tinggi dari bobot yang sebenarnya. Suatu alat ukur dikatakan memiliki keterandalan (reliabilitas tinggi) atau dapat dipercaya  jika  alat  ukur  itu  mantap  dalam  pengertian  bahwa  hasil  yang  diperoleh  dengan   penerapan   alat   tersebut   tidak   berbeda   jauh   dengan   bobot   hidup   yang   sesungguhnya. Penafsiran yang paling tepat dalam pendugaan bobot badan ternak sapi adalah melalui ukuran lingkar dada.

 

Pengukuran lingkar dada ternak dapat dilakukan menggunakan pita ukur sederhana atau pita ukur yang sudah dirancang dan diproduksi sedemikian rupa yang berfungsi sekaligus sebagai alat penduga bobot badan ternak, karena pada pita ukur yang tediri atas dua sisi. Jika satu sisi menunjukkan besaran dari ukuran lingkar dada ternak yang diukur, maka pada sisi lainnya secara otomatis menunjukkan nilai bobot badan ternak dalam satuan bobot tertentu. Oleh karena itu, biasanya pita ukur disebut juga dengan pita bobot (weighing band). Ada beberapa negara atau perusahaan yang telah memproduksi pita ukur yang dipasarkan secara komersil yang biasa digunakan, diantaranya pita Dalton, Animeter, Agrotech, Butterfly, Rondo, Coburn dan FHK.

 

Penggunaan pita ukur untuk pendugaan bobot badan ternak sangat mudah dan sederhana pengoperasiannya, karena langsung dapat dilihat nilai bobot badannya. Bahkan jika peternak hanya menggunakan pita ukur konvensional (bukan pita pemberat), juga dapat langsung diaplikasikan dengan beberapa model perhitungan atau rumus-rumus pendugaan yang telah dikembangkan oleh para penemu dan peneliti sebelumnya. Seperti model yang dikembangkan oleh Schoorl dan Smith yang hanya menggunakan ukuran lingkar dada dalam model perhitungannya.

 

Setelah data-data pengukuran tersebut diperoleh, selanjutnya dihitung bobot badan berdasakan metode pendugaan yang digunakan yaitu dengan rumus Schoorl. Menurut Gafar (2007), rumus yang dapat digunakan untuk menduga bobot badan adalah:

 

RumusSchoorl:

BB = LD (Cm) + 22)2

              -----------------------------------

                100

     Dimana, BB = Bobot Badan,  LD = Lingkar Dada

 

 

Adapun alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.   Tongkat ukur setinggi 200 cm dengan tingkat ketelitian 0,1 cm, digunakan untuk  mengukur tinggi pundak dan panjang badan.

2.   Pita ukur dalam satuan (cm) dengan tingkat ketelitian 0,1 cm, digunakan untuk mengukur lingkar dada.

 

Cara mengukur

a.Tinggi pundak yaitu dengan cara mengukur jarak dari permukaan yang rata sampai bagian tertinggi pundak melewati bagian Scapulla secara tegak lurus, menggunakan tongkat ukur.

b.Panjang badan yaitu dengan mengukur jarak dari bongkol bahu (Tuberositas humeri) sampai ujung tulang duduk (Tuber ischii), menggunakan tongkat ukur

c. Lingkar dada yaitu dengan melingkarkan pita ukur pada bagian dada dibelakang bahu.

 

 

Bobot badan hasil rumus Schoorl lebih besar sekitar 1,5-32,6% dari bobot badan sebenarnya, sedangkan  pendugaan bobot hidup dengan pita ukur menghasilkan bobot hidup yang sangat nyata lebih  mendekati bobot yang sebenarnya. (Sitorus,   1979)