Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 23 July 2021

KIAT MENINGKATKAN ANGKA KEBUNTINGAN PADA KERBAU

Oleh Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP
Widyaiswara Ahli Utama.


Program IB pada kerbau telah lama dilaksanakan, tetapi tingkat keberhasilannya masih sangat rendah yang ditandai dengan persentase kebuntingan kurang dari 30% dan persentase kelahiran kurang dari 25%. Kendala utama yang dirasakan menghambat pelaksanaan inseminasi buatan pada kerbau adalah sulitnya deteksi berahi karena gejala berahi umumnya tidak jelas. Akibatnya peternak tidak mengetahui saat kerbaunya sedang berahi, sehingga inseminasi tidak dilakukan tepat waktu.  Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil IB antara lain adalah kualitas semen, kesuburan hewan betina, inseminator, dan ketepatan dalam mendeteksi berahi. Kondisi dilapangan umumnya keberhasilan IB pada kerbau relative rendah, hal tersebut dikarenakan adanya kesulitan dalam mendeteksi puncak berahi akibat intensitas berahi yang rendah.

 

 

Sekitar 70-80% kerbau mengalami gejala berahi tenang (silentestrus). Gejala berahi kerbau umumnya tidak sejelas pada sapi, baik perubahan pada alat kelamin luar, leleran vulva maupun tingkah laku seksualnya. Rendahnya intensitas berahi pada kerbau disebabkan rendahnya konsentrasi progesteron pada fase lutea lsebelum berahi terjadi. Akibatnya,ovarium kurang responsif terhadap stimulasi hormon gonadotropin sehingga terjadi berahi tenang. Rendahnya intensitas berahi ditandai dengan tingginya kasus berahi tenang (silent heat) dan subestrus. Sebagai akibat dari kasus ini maka pelaksanaan IB tidak dapat dilakukan tepat waktu. Gejala berahi pada kerbau umumnya tidak sejelas pada sapi, baik perubahan pada alat kelamin luar, leleranvulva, maupun perubahan tingkah laku. Hal ini disebabkan karena jumlah populasi folikel ovarium yang menghasilkan estrogen-hormon yang memanifestasikan gejala berahi pada kerbau hanya seperlima dari populasi folikel pada sapi (Ty et al., 1999).

 

Rendahnya angka fertilitas pada kerbau sangat berkaitan erat dengan sifat genetis reproduksinya yang lebih jelek dari pada sapi. Populasi folikel ovaria pada kerbau hanya ½ dari populasi folikel pada sapi (Tyet al.,1987), kadar hormon gonadotropin darah pada kerbau juga lebih rendah dibanding dengan pada sapi (Rajamahendra danThamotharam, 1988) dan rendahnya profil hormon progesteron selama siklus berahi (Putro, 1991). Upaya pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan intensitas berahi dapat dilakukan melalui penyerentakan berahi.  Hal ini sejalan dengan Putro (2000), melaporkan adanya peningkatan konsentrasi estradiol 17-beta pada plasma darah pada terapi kombinasi CIDR-B pluscidirol. Dengan kondisi ini, maka IB yang lebih tepat waktu dapat dilakukan. Hormon LH mampu menumbuhkan folikel padaovarium sehingga terjadi ovulasi, tetapitidak mampu mendorong sintesishormon estrogen oleh sel granulosa (Hardjopranjoto, 1995). Pendapat inidiperkuat oleh Carvalhoet al. (2007) yang menyatakan bahwa konsentrasi plasmaprogesteron menurun secara signifikan pada hari ke-10 siklus.

 

Teknik sinkronisasi CIDR-B pluscidirol adalah sebagai berikut   a). Vulva kerbau dibersihkan dengan menggunakan antiseptik betadine. b). Setelah kering, aplikator CIDR-B, vulva,dan vagina diolesi dengan vaselin. c). Dengan menggunakan aplikatornya, alat CIDR-B ditambah dengan kapsul cidirol diselipkan ke dalam vagina kerbau selama 7 hari. d). Lakukan pengamatan berahi, setelah dua puluh empat jam (24) jam sejak CIDR-B dikeluarkan, e). Kerbau-kerbau yang menunjukkan gejala berahi  dilakukan IB  sebanyak dua kali  dengan selang 12 jam (IB pagi Hari dan diulang sore hari).

 

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga dapat menambah wawasan dan bermamfaat dalam meningkatkan angka kebuntingan pada kerbau. Peningkatan persentase kebuntingan hasil sikronisasi CIDR akan meningkat, hal ini terjadi karena intensitas berahi lebih nyata sehingga inseminator dapat melakukan inseminasi sesuai dengan protokol yang sudah ditentukan.

(E  Nia Setiawati,  07 Juli 2021).