Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 30 April 2021

FISIOLOGI KELAHIRAN PADA SAPI

FISIOLOGI KELAHIRAN PADA SAPI

Oleh : drh. Ristaqul Husna Belgania

 

Parturisi atau kelahiran adalah proses fisiologis di mana uterus yang bunting mengeluarkan janin dan plasenta dari organisme induk. Beberapa perubahan klinis pada induk hamil menunjukkan mendekati kelahiran. Otot dan ligamen pantat dan kepala ekor melunak dan mengendur, kepala ekor diangkat 24 sampai 48 jam sebelum melahirkan, dan vulva membengkak. Saat melahirkan semakin dekat, vulva mengeluarkan lendir yang kental dan berserabut, ambing membesar, dan puting tampak menggelembung karena susu.  (Hafez et al, 2000).

Sepanjang kehamilan, berbagai rangsangan yang relevan secara fisiologis mempengaruhi uterus untuk menginisasi kehamilan Rangsangan intrinsik bisa seperti stres janin atau induk, penuaan plasenta, distensi uterus.  Adapun penyebab ekstrinsik seperti infeksi intra uterin, nutrisi induk, dan stres lingkungan juga mempengaruhi uterus (Sperling et al, 2021).

Kelahiran pada sebagian besar hewan dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon yang beredar dalam sirkulasi induk dan janin pada akhir kehamilan (Sperling et al, 2021). Sistem endokrin janin mendominasi pada ruminansia seperti domba, kambing, dan sapi. Pada  kuda dan manusia sistem endokrin janin hanya berperan kecil (Hafez et al, 2000).

Kecemasan, stres, atau ketakutan memperpanjang waktu melahirkan pada beberapa spesies melalui penurunan kontraktilitas miometrium yang disebabkan oleh pelepasan epinefrin. Rutinitas pengelolaan seperti memberi makan juga dapat mempengaruhi waktu nifas pada sapi, kuda, dan domba. Hafez (2000) menyimpulkan bahwa janin menentukan hari lahir, sedangkan ibu menentukan jam kelahiran. Keberhasilan proses kelahiran bergantung pada dua proses mekanis yaitu kemampuan uterus berkontraksi dan kapasitas serviks untuk melebar cukup untuk memungkinkan lewatnya janin.

Proses melahirkan mamalia dikendalikan oleh sistem endokrin yang kompleks yang melibatkan janin, induk, dan plasenta. Plasenta merupakan sumber dari sejumlah besar faktor autokrin, parakrin, dan endokrin. Karena plasenta merupakan pemain penting dalam jaringan sinyal yang mengendalikan inisiasi dan proses nifas, keragaman fungsi endokrinnya secara signifikan berkontribusi pada perbedaan yang cukup besar dalam kaskade sinyal antar spesies. (Schuler et al, 2018).

Agar kelahiran terjadi, adanya transformasi keadaan uterus dari yang diam dengan kontraksi disinkronis menjadi organ yang berkontraksi secara bersamaan aktif dengan komponen otot yang kompleks yang mengakibatkan kontraksi rahim. Ini membutuhkan pembentukan persimpangan celah antara sel-sel myometrial untuk memungkinkan transmisi sinyal kontraktil. Janin dapat mengkoordinasikan saklar ini dalam aktivitas myometrial melalui pengaruhnya pada produksi hormon steroid plasental, melalui distensi mekanis rahim dan melalui sekresi hormon neurohypophyseal dan stiulator lain dari sintesis prostaglandin. Perubahan kedua  adalah jaringan ikat serviks dan otot halus mampu dilatasi untuk memungkinkan perjalanan janin dari rahim. Perubahan ini disertai dengan pergeseran dari progesteron ke dominasi estrogen, peningkatan respons terhadap oksitosin dengan cara regulasi reseptor oksitosin miometrik, peningkatan sintesis progesteron dalam rahim, peningkatan pembentukan persimpangan celah myometrial, penurunan aktivitas nitrat oksida (NO) dan peningkatan masuknya kalsium ke dalam mosit dengan ATP tergantung mengikat myosin untuk bertindak, peningkatan endothelin yang mengarah ke aliran darah rahim dan aktivitas myometrium (Kota, 2013).

Penelitian yang tersedia sejauh ini menunjukkan bahwa bahkan antara spesies yang berkerabat dekat mungkin ada perbedaan inisiasi dan fisiologi kelahiran yang signifikan. Karena plasenta merupakan pemain penting dalam jaringan sinyal yang mengendalikan inisiasi dan proses nifas, keragaman fungsi endokrinnya secara signifikan berkontribusi pada perbedaan yang cukup besar dalam kaskade sinyal antar spesies (Schuler et al, 2018)

Gambar 1. Konsep inisiasi kelahiran pada sapi (Shenavai dkk., 2012).

 

Pada sapi yang akan mengalami kelahiran menunjukkan tanda-tanda gelisah dan sakit perut. Sehari atau dua hari sebelum melahirkan, sapi tersebut menjadi gelisah dan berusaha di area kecil yang terisolasi, yang dia lindungi dari sapi lain. Pengurungan dan gangguan saat ini dapat mengakibatkan penundaan proses kelahiran. Saat anak sapi memasuki jalan lahir, peregangan perut dimulai dan hewan berbaring pada posisi lateral. Saat amnion muncul di vulva dan dengan kontraksi lanjutan, anak sapi dilahirkan. Kebanyakan anak sapi membutuhkan waktu setidaknya 45 menit untuk berdiri dan mungkin memerlukan beberapa jam untuk menyusu pertama. Sapi membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 6 jam untuk mengeluarkan plasenta (Hafez, 2000).

 

Tahapan Kelahiran

Secara umum terdapat tiga tahapan kelahiran yakni persiapan (prepartum), pengeluaran fetus, dan pengeluaran plasenta. Tahap pertama dimulai dengan persiapan awal persalinan, dilatasi serviks, dan pecahnya korio allantois di vagina. Fase selanjutnya dimulai ketika fetus mulai muncul secara nyata dari vulva dan akhirnya dikeluarkan. Pada tahap terakhir, pengeluaran plasenta. Proses melahirkan adalah periode penting bagi induk dan anak sapi (Jackson, 1995; Schuenemann et al., 2011; Mota-Rojas et al., 2018).

1.Tahap Persiapan

Pada tahapan persiapan terjadi pelebaran serviks disebabkan oleh perubahan karakteristik fisik kolagen serviks dan peningkatan tekanan dalam rahim. Hal ini terlihat jelas pada spesies seperti domba, kambing, dan sapi yang memiliki leher rahim yang kaku. Pematangan serviks bergantung pada hormon dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti peningkatan kadar estrogen, sekresi relaxin (babi), dan prostaglandin pada permulaan partus beberapa jam sebelum dimulainya kontraksi persalinan, serviks melunak dan secara bertahap melebar (Hafez, 2000).

Secara umum, tahap persiapan pada sapi dara membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan sapi yang telah melahirkan beberapa kali. Penelitian menunjukkan kadar kortisol sapi dara lebih tinggi dibandingkan sapi yang telah melahirkan sebelumnya, bahkan pada kasus distokia. Hal ini menunjukkan bahwa sapi dara memiliki respons akut yang lebih tinggi terhadap stres persalinan atau sulit melahirkan (Mohammad dan Rahman, 2013).

Tahap persiapan pada sapi berlangsung selama 2-6 jam ditandai dengan hewan tidak tenang, berbaring berdiri, berjalan ke sana ke mari, mulai ada gejala rasa sakit yang sangat di daerah perut. Rasa sakit ini disebabkan kontraksi otot-otot uterus, frekuensi 15 menit sekali selama 20 detik, kemudian meningkat. Kontraksi uterus menjadi terkoordinasi dan teratur  seiring peningkatan estrogen dan PGF2α dan fetus mendorong servik. Perlahan terjadi dilatasi servik, sumbat servik meleleh kemudian  servik membuka. Akhir stadium ini servik membuka penuh, hingga menjadi saluran dari uterus ke vagina. Kantong allanto chorion menyembul keluar dan menjadi robek akibat dorongan fetus ke cervix menstimulasi pelepasan oxytocin dan refleks kontraksi otot abdominal (Waluyo, 2019).

Gambar 2 Tahap Persiapan Kelahiran ditandai dengan kantong allantois  menyembul seperti balon (Waluyo, 2019).

 

 

 

2.Tahap Pengeluaran Fetus

Pada hewan monotokus, tahapan pengeluaran fetus ini disebut stadium kedua kelahiran, sementara pada hewan politokus pengeluaran fetus dan plasentanya menjadi satu (Mahaputra dkk, 2011). Waktu yang dibutuhkan untuk pengeluaran janin adalah yang terpendek dari tiga tahap pada hewan monotocous seperti sapi.  Pada kelahiran normal sapi tanpa pertolongan lama pengeluaran fetus 0,5-2 jam (Hafez, 2000).

Gambar 3 Tahap Pengeluaran Fetus Sapi Bagian Awal  (Waluyo, 2019)

 

 

 

 

Gambar 4 Tahap Pengeluaran Fetus Sapi (Waluyo, 2019)

 

Posisi kelahiran normal adalah kaki depan keluar pertama dengan kepala terletak di antara kedua kaki. Kontraksi uterus menyebabkan kuku di tusukan ke plasenta keluar cairan amnion yang berfungsi sebagai pelicin. Otot utama yang berkontraksi adalah miometrium. Bila serviks dan vagina diperluas refleks ferguson di mulai yang menyebabkan kontraksi perut. Kontraksi perut di tambah dengan kontraksi uterus akan mendorong fetus keluar. Kontraksi uterus mulainya di sebabkan oleh PGF2α. Hormon PGF2α juga meningkatkan sensitifitas uterus terhadapa oksitoksin. Dengan demikian, kontraksi menjadi semakin kuat. Oksitosin dilepaskan dari pituitari diperlukan untuk mengeluarkan fetus. Relaksi dan PGF2α membantu ligamen pelvis menjadi relaks dan melebarkan serviks (Waluyo, 2019).

  

3.Tahap  Pengeluaran plasenta

Janin  bergantung pada plasenta untuk respirasi, nutrisi, dan ekskresi, membuat serangkaian penyesuaian struktur dan fisiologi yang kompleks untuk kehidupan ekstrauterin. Pengeluaran plasenta saat proses melahirkan membuat neonatus kehilangan kesadaran akan oksigen, dukase, dan panas (Hafez, 2000).

Setelah pengeluaran fetus, kontraksi uterus berlanjut mendorong plasenta keluar membran plasenta lepas dari kotiledon (pada ruminansia) dan plasenta di keluarkan, normalnya 7-8 jam setelah kelahiran (Waluyo, 2019).

Gambar 5 Tahap Pengeluaran Plasenta Sapi (Waluyo, 2019)

 

Plasenta perlu dikeluarkan dalam 12 jam pertama setelah lahir, jika tidak, hasilnya bisa berupa retensio plasenta. Konsekuensi dari retensi plasenta termasuk komplikasi seperti endometritis, metritis, dan pyometra (Attupuram et al., 2016; González-Lozano et al, 2020).

 

Referensi

Hafez, E.S.E and Hafez, B. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7 ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.

Ismudiono, Srianto, P., Anwar, H., Madyawati, S.P., Samik, A., Safitri, E. 2010. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya. 100-106

Jackson, P. G. 1995. Normal Birth of the Cow. Handbook of Veterinary Obstetrics. W.B. Saunders Co. Ltd., London, UK.

Kota, S.K., Gayatri,K., Jammula,, S., Kota,S.K.,. Krishna, S.V.S., Meher,L.K.,  Modi, K.D. 2013. Endocrinology of parturition. Indian J Endocrinol Metab. 17(1): 50–59.

Mohammad, D. R. I., Abdel Rahman, M.A.M. 2013. A comparative study on behavioral, physiological, and adrenal changes in buffaloes during the first stage of labor with normal and difficult parturition. J. Vet. Behav. 8:46–50.

Mota-Rojas, D., A. López, J. Martínez-Burnes, R. Muns, D. Villanue- va-García, P. Mora-Medina, M. Gonzalez-Lozano, A. Olmos-Hernán- dez, and R. Ramírez-Necoechea. 2018. Invited review: Is vitality as- sessment important in neonatal animals? CAB Rev. 13:1–13.

Schuenemann, G. M., I. Nieto, S. Bas, K. N. Galvão, and J. Workman. 2011. Assessment of calving progress and reference times for obstetric intervention during dystocia in Holstein dairy cows. J. Dairy Sci. 94:5494–5501

Schuler, G, Fürbass, R., Klisch, K. 2018. Placental hormones in gestation and parturition. Proc. Anim. Reprod.15:.822-842

Shenavai, S., Preissing, S., Hoffmann, B., Dilly, M., Pfarrer, C., Özalp, G.R., Caliskan, C., Seyrek-Intas, K., Schuler, G. 2012. Investigations into the mechanisms controlling parturition in cattle. Reproduction, 144:279- 292.

Sperling, M.A. 2021. Sperling Pediatric Endocrinology. Elsevier. Philadelphia. 106-118

Waluyo, S.T. 2019 Reproduksi Aplikatif pada Sapi. Srikandi Empat Widya Utama. Bandung. 260-272.