Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 05 May 2021

FENOMENA KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU LUMPUR

Dr. drh. Euis Nia Setiawati, MP

Widyaiswara Ahli Utama

 

Ternak kerbau berpotensi sebagai penghasil daging dan sumber pendapatan bagi peternak yang mengusahakannya. Seiring dengan peningkatan kebutuhan daging dalam negeri, daging kerbau menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Produksi daging kerbau dalam negeri tahun 2016 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 9,90%. Salah satu solusi untuk memenuhi peningkatan konsumsi daging kerbau adalah mengoptimalkan aspek produksi dan reproduksi serta manajemen pemeliharaan ternak lokal, sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang baik. Kerbau   lumpur   (Bubalus bubalis) merupakan kerbau tipe kerja dan pedaging yang perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat yang semakin meningkat dan menunjang Program Swasem- bada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) yang dicanangkan Pemerintah. Daging kerbau memiliki kandungan gizi dan harga yang hampir sama dengan sapi. Pada umur yang sama daging kerbau lebih empuk dari pada daging sapi (Neath et al., 2007). Kandungan lemak dan kholesterol daging kerbau lebih rendah dari pada daging sapi (Infascelli et al., 2003; Spanghero et al.,2004). Kerbau mampu mencerna pakan dengan kualitas yang lebih rendah daripada sapi.

Populasi ternak kerbau lumpur makin menurun berdasarkan data Badan Pusat Statistik.   Guna meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak kerbau, perlu didekati dengan teknologi bidang reproduksi (Amin et al., 1999).   Inseminasi buatan (IB) adalah salah satu alternatif yang tepat, karena teknologi ini tergolong sederhana dan lebih aplikatif. Performans reproduksi kerbau sangat menentukan efisiensi produksi. Menurut Azawi et al. (2008), penurunan efisiensi reproduksi pada kerbau disebabkan terbatasnya informasi tentang kasus kelainan reproduksi pada saat pemotongan kerbau dan pada umumnya pemotongan kerbau betina karena tidak ekonomis dipelihara dan kasus penyakit

Pengembangan ternak kerbau tidak terlepas dari perannya sebagai ternak kerja pada lahan pertanian. Performans ternak umumnya  dipengaruhi secara langsung oleh lingkungan habitatnya dan mutu genetik warisan tetuanya. Lingkungan/habitat ternak terdiri dari suhu udara, kelembapan, dan kuantitas serta kualitas serat yang merupakan pakan utama pada ternak kerbau. Komponen yang paling berpengaruh pada pertumbuhan hijauan pakan ternak adalah  curah hujan dan suhu udara. Suhu udara akan naik atau turun 1oC pada setiap perubahan ketinggian 100 m. Manajemen pemeliharaan kerbau di Indonesia pada umumnya masih tradisional sifatnya, hanya mengandalkan kondisi alam setempat. Tetapi, salah satu keunggulan ternak kerbau bila dibandingkan dengan ternak sapi adalah kemampuan mikrob yang ada di dalam lambung rumen kerbau dalam mencerna serat kasar atau pakan berkualitas rendah, lebih baik dari ternak sapi (Singth et al., 2013), oleh karena itu ternak kerbau relatif tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi, sehingga sangat cocok bila dikembangkan di kawasan yang memiliki lahan marginal.

            Rataan umur berahi pertama kerbau lebih dari dua tahun, hal ini membuat produktivitas kerbau dicapai pada umur yang lebih tua dibanding sapi. Umur kawin pertama lebih tua dibanding sapi dengan lama bunting yang lebih panjang, kerbau memiliki awal masa produktif pada umur yang lebih tua dibanding sapi. Lama berahi kerbau relatif singkat dengan tanda-tanda berahi yang samar (silent heat), menyebabkan peternak sulit mendeteksi, sehingga lambat dikawinkan. Namun demikian, berdasarkan penelitian terdahulu masa produktif kerbau cukup panjang dengan jumlah anak yang dihasilkan induk kerbau sebanyak 10-15 ekor. Kerbau diperkirakan mencapai masa produktif hingga umur 25 tahun jauh lebih panjang dibanding sapi lokal (Lendhanie, 2005). Kawin kembali setelah beranak pada kerbau cukup panjang, secara rataan di atas satu bulan. Berdasarkan laporan Lendhanie (2005) kerbau rawa berahi kembali setelah 3-5 bulan melahirkan. Hal ini disebabkan adanya faktor proses involusi uterus yang lebih lama terjadi pada kerbau. Karakteristik reproduksi kerbau lumpur di dataran tinggi dan dataran rendah adalah umur berahi pertama 25,6 bulan, umur kawin pertama 26,6 bulan, umur beranak pertama 38,7 bulan, lama bunting 11,8 bulan, lama berahi 5,3 hari, dan kawin setelah beranak 54,6 hari.

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga bermanfaat bagi peternak kerbau dimana dengan mengenal karakteristik reproduksi kerbau diharapkan para peternak akan lebih termotivasi untuk lebih meningkatkan populasinya melalui  tatalaksana pemeliharaan yang baik dan benar, pemberian  pakan (Hijauan makanan Ternak) yang memadai  dan penerapan teknologi reproduksi tepat guna ( Inseminasi buatan) yang efisien dan efektif.