Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 04 May 2021

FAKTOR TERJADINYA INFERTILITAS PADA SAPI FH DAN SOLUSINYA.

Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

Widyaiswara Ahli Utama

 

Infertilitas adalah menurunnya derajat kesuburan pada ternak, yang merupakan kegagalan reproduksi yang bersifat sementara, tetapi jika tidak cepat ditanggulangi dapat bersifat permanen atau steril.  Masalah infertilitas ini lebih sering dijumpai pada sapi perah daripada sapi potong dan kehidupan secara berkelompok lebih sering dibandingkan dengan individual, sehingga makin besar  ternak  yang  dikelolah  makin  sering  terjadi  infertilitas  Penyebab infertilitas  bervariasi  dan kompleks.  Penyebab  sterilitas     pada     hewan  bisa  kongenital  atau diperoleh dengan kondisi yang bersifat sementara atau permanen. Walaupun  kasusnya     bersifat   sementara,  biasanya     menyebabkan kerugian yang   sangat   besar   karena faktor   waktu   dan   rendahnya produksi susu. Infertilitas biasanya dianalisa berdasarkan apakah penyebabnya anatomis, fungsional atau karena sebab infeksi.

Sistematik pemeriksaan fisik produksi sapi betina dalam menentukan fertilitas dan sterilitas, yaitu  dengan melakukan  pemeriksaan  khusus  alat  reproduksi, pengambilan sampel, disamping riwayat kasus, pemeriksaan klinis khusus meliputi pemeriksaan per-rektal dan per-vaginal. Abnormalitas yang ada hubungannya dengan pengaruh Iingkungan meliputi hipofungsi ovari, hipoplasia ovari, CLP (Corpus Luteum Persisten) dan sista ovary. Lingkungan yang tidak stabil seperti suhu yang   tinggi   dan   pakan   yang   bernutrisi rendah dapat mengakibatkan cekaman sehingga  meningkatkan  stress  pada  ternak dan  berdampak terhadap gangguan produksi hingga reproduksi ternak.

Infertilitas faktor hormonal dapat disebabkan karena faktor induk, defisiensi   nutrisi, dan stress karena produksi susu tinggi. Dalam  pola  peternakan  rakyat  yang  masih  bersifat  tradisional seperti halnya di Indonesia, faktor makanan mungkin merupakan satu faktor   terpenting   yang   menjadi   penyebab   kegagalan   reproduksi, khususnya  pada  sapi. Faktor makanan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan organ reproduksi, sehingga makanan dengan kualitas rendah dapat menyebabkan hipoplasia ovari pada sapi-sapi dara dan hipoplasia testes pada sapi jantan muda yang berakibat keterlambatan masa pubertas atau dewasa kelamin. Faktor manajemen pemberian pakan perlu diperhatikan seperti halnya protein Meskipun protein dan iodium tidak begitu penting dalam masalah reproduksi seperti halnya pada kebutuhan enersi, tetapi apabila kadar yang dibutuhkan dari protein rendah juga akan mempermudah  terjadinya  infertilitas.

Gangguan karena faktor fungsional yang sering  ditemukan adalah anestrus (13.5%), subestrus   (20.9%), sista ovari (37,1%), anovulasi atau ovulasi tertunda (5,6%). Ditandai   dengan tidak adanya aktivitas siklik yang disebabkan karena ketidak cukupan  produksi hormon gonadotropin  atau  ovari yang tidak  merespon  terhadap  hormon gonadotropin (Amiridis et al.,2009). Selain faktor induk gangguan sistem hormonal dibagi menjadi dua yaitu: faktor dari luar yang berhubungan dengan tingginya produksi susu atau stress selama waktu laktasi. Faktor dari dalam, yaitu: ovarium yang sistik, yang sering terjadi pada sapi-sapi perah karena faktor bergerak yang  kurang  setelah•  partus  terutama  pada  puncak  laktasi.  Kejadian ovarium yang sistik dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor keturunan dan kondisi lingkungan dalam hal ini produksi susu tinggi berkorelasi dengan stress di musim dingin dan di daerah subtropis. Sebenarnya mekanisme pembentukan sista ovari tidak diketahui dengan pasti, teori yang masuk akal menerangkan etiologi kejadian sistem ini oleh karena kurangnya sekresi LH dari hipofisa anterior pada saat menjelang ovulasi. Folikel yang terbentuk  terus  membesar  karena  sekresi  FSH  yang  cukup  memadai tetapi untuk berovulasi tidak didapatkan kandungan LH belum cukup. Hubungan dampak Iingkungan dengan faktor turunan terhadap kejadian nymphomania, sebagai gejala dari ovarium yang sistik. Selain memperlihatkan gejala nymphomania sekitar 25% dari sapi yang mengalami sista ovari dapat memperlihatkan gejala anestrus dan Berahi tenang (subestrus/silent heat) yang sering terjadi pada sapi-sapi pasca beranak, disebabkan karena defisiensi nutrisi, P, Cobalt, dan berat badan yang rendah. Aktivitas ovarium normal tetapi estrus tidak jelas, pada palpasi rektal biasanya teraba adanya aktifitas ovarium.

Gejala anestrus yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh karena sapi kekurangan makanan disamping faktor iklim tropis yang dapat menurunkan intensitas dan lama estrus pada temperatur tinggi. Sapi FH yang banyak dipelihara di Indonesia, periode berahinya 11 jam pada suhu 24-35°C (Gaafar et al., 2011). Hal tersebut dapat terjadi karena suhu di Indonesia  dataran  rendah  23-35°C  dan  di  dataran  tinggi  20-30°C, sehingga periode berahi pada sapi FH menjadi singkat. Iklim dapat mempengaruhi kegiatan reproduksi baik secara Iangsung maupun tidak langsung. Pengaruh iklim secara langsung misalnya oleh suhu dan keIembaban,  sedangkan yang tidak langsung dimana ikIim mempengaruhi mutu makanan dan prevalensi penyakit serta parasit. Untuk mendeteksi secara langsung pengaruh iklim terhadap reproduksi   sapi   agak   sulit,   karena   jenis   sapi   dan   rnakanan   ikut terpengaruh. Iklim dapat mempengaruhi waktu pubertas, lama estrus, sistem hormonal, kejadian abnormalitas dari ovarium pada sapi betina. Sedangkan pada sapi  jantan  mempengaruhi  waktu  libido, spermatogenesis dan karakteristik dari pada semen. Iklim dan pertumbuhan rumput di daerah tropis mempengaruhi produksi dan reproduksi, terutama pada sapi dara dimana pada musim hujan yang berkisar antara bulan Juli sampai Oktober banyak sapi yang bunting, sedangkan pada musim kemarau aktifitas reproduksi menurun, karena udara yang terlalu panas disamping jumlah makanan yang relatif berkurang   mengemukakan, bahwa temperatur yang tinggi dan berlangsung secara terus menerus dapat menekan fertilitas sapi jantan dan betina. Temperatur yang meningkat di daerah subtropis terjadi pada musim panas sehingga fertilitas menjadi rendah, yang dikenal dengan "Summer Infertility" , temperatur  yang  tinggi  di  musim panas di daerah subtropis sulit untuk mendeteksi estrus dibanding pada musim dingin. Sedangkan di daerah tropis periode berahi menjadi pendek pada sapi Eropa dan sapi Zebu, hal tersebut terjadi karena iklim tropis yang panas akan memperpendek waktuestrus. Periode berahi yang pendek ini tidak akan terobservasi apabila hanya dilakukan satu kali dalam sehari .

 Penanganan kasus silent heat dan sub estrus dapat dilakukan dengan  perbaikan  manajemen  pemeliharaan  agar ternak mendapat cahaya yang cukup, peningkatan kualitas pakan agar ternak mendapat nutrisi yang cukup sehingga mekanisme   hormonal   dalam   tubuh   dapat   berjalan   dengan   baik. Pemberian   hormon   progesteron   yang   diberikan   pada   sapi   akan memunculkan berahi 48-72 jam setelah pemberian PGF2α . Selain itu akan memberikan feed back negatif terhadap hipotalamus dengan menghasilkan hormon GnRH untuk merangsang hipofise untuk menghasilkan LH/FSH yang menstimulasi gonad untuk mensekresikan estardiol. Didaerah-daerah yang kekurangan iodium untuk mencukupi mineral tersebut harus disediakan dalam bentuk pemberian garam dapur. Kekurangan  garam  dalam  waktu  yang  lama  menyebabkan  penurunan berat badan dan anestrus.

Demikian tulisan ini disampaikan , semoga dapat memberikan manfaat bagi para peternak sapi perah khususnya dan peternak sapi umumnya,  untuk memberikan pakan  yang memadai, sehingga produktivitas yang dihasilkan sesuai dengan potensi yang dimiliknya, sehingga memberi keuntungan yang optimal.