Telephone

02518220077

Faksimile

0251 8221672

email address

bbpkhcinagara@pertanian.go.id

image 01 July 2021

FAKTOR PREDISPOSISI KEJADIAN ANESTRUS PADA TERNAK

Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

Widyaiswara Ahli Utama.

 

Faktor-faktor yang menyebabkan  terganggunya  proses reproduksi adalah faktor lingkungan,  hormonal,  genetik, dan infeksi penyakit. Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu  proses reproduksi  pada berbagai kondisi. Akibat gangguan proses reproduksi tersebut menyebabkan  anestrus,  infertilitas akibat kegagalan fertilisasi dan kematian embrio  dini, kematian  fetus, kematian  perinatal, dan neonatal. Anestrus adalah suatu keadaan dimana  aktivitas seksual berhenti, ditandai dengan tidak munc ulnya estrus. Setelah terc apai pubertas pada kondisi tidak bunting dan tidak pada masa purperium,  dalam keadaan normal siklus estrus akan berlangsung  terus. Anestrus bukan suatu penyakit, tetapi merupakan  gejala atau tanda - tanda dari berbagai kondisi.  Ada dua mac am anestrus yaitu fisiologis  dan patologis. Anestrus yang fisiologis misalnya  sebelum pubertas, selama bunting dan laktasi, dan selama  tidak pada musim kawin (breeding season) pada hewan-hewan yang mempunya i breeding  season. Sedangkan anestrus yang patologis karena ada gangguan pada ovarium atau uterus yang dapat menghambat  timbulnya  estrus.

 

Pada kejadian anestrus factor penyebabnya meliputi (1). Seasonal Anestrus, (2). Selama Laktasi, (3). Proses penuaan. (4). Defisiensi Nutrisi dan (5) Stress. Pada seasonal anestrus tidak ada perubahan di dalam ovarium dan alat reproduksi yang lain. Tingkat atau lama seasonal anestrus bervariasi tergantung species, bangsa, dan lingkungan  fisik. Lebih sering terjadi pada domba dan kuda daripada sapi, babi, dan hewan laboratorium. Seasonal anestrus disebabkan sekresi GnRH  berkurang.  Dengan meningkatnya lama siang hari sesudah winter, sekresi GnRH  distimulir  FSH dilepaskan,  perkembangan folikel distimulir  kembali  akibatnya terjadi estrus dan ovulasi. Sinar matahari - > photorec eptor pada mata - > rangsangan diteruskan ke pineal gland -> terjadi sintesis dan sekresi melatonin  (derivat tyrosin atau tryptophan) -> mengaktifkan hipotalamus  -> hipofise -> gonad.

 

Pada beberapa species, ovulasi dan aktivitas reproduksi  yang lain ditekan untuk beberapa lama sesudah beranak dan selama laktasi. Kejadian dan lamanya  anestrus bervariasi tergantung species dan bangsa, dan juga dipengaruhi  oleh musim  pada waktu beranak, tingginya produksi susu, jumlah  anak yang menyusu,  dan lama involusi uterus. Estrus dan ovulasi sama sekali ditekan selama masa laktasi pada babi, walaupun hambatan tersebut mungkin  lebih disebabkan  karena reflek menyusui dan atau adanya beberapa anak, daripada laktasi itu sendiri. Ovulasi akan terjadi 4-8 hari setelah menyapih. Sedangkan pada sapi perah yang diperah aktivitas ovarium akan kembali  dalam waktu 30 -40 hari setelah beranak (postpartum).  Sebaliknya  sapi perah dan kerbau yang menyusui anaknya, postpartum estrus akan lebih lama. Selama  temperatur udara tinggi dan mendapat  pakan yang jelek, induk sapi Brahman  yang masih menyusui anaknya tidak akan menunjukkan  gejala estrus (anestrus). Lama anestrus pada induk sapi yang menyusui anaknya lebih lama daripada sapi yang diperah dua kali sehari. Ini menunjukkan  bahwa aktivitas menyusu  atau frekuensi pemerahan  mempenga ruhi  kerja hormon gonadotropin dari hipofise. Pada domba anestrus pada masa laktasi berlangsung  5- 7 minggu.  Ada induk yang masih menyusui  anaknya menunjukkan  gejala estrus tetapi kebanyakan  baru menunjukkan  gejala estrus 2 minggu setelah menyapih  anaknya. Disamping  itu pakan dan musim  mempengaruhi  efek menyusu  dan laktasi pada mulainya aktivitas ovarium setelah beranak. Interaksi fisiologis  antara menyusui dan pemerahan  dan terhambatnya aktivitas ovarium belum seluruhnya  diketahui. Perubahan yang terjadi pada ovulasi pertama setelah beranak (first postpartum ovulation) pada sapi, babi, dan domba  adalah waktu dan frekue nsi naiknya  sekresi LH. Pada awal periode postpartum, menyusui menghambat  dilepaskannya GnRH;  menghentikan  kandungan  GnRH  di dalam hipotalamus  normal tetapi kelenjar hipofise kurang sensitif terhadap GnRH  untuk menginduks i  pelepasan LH. Menyusui akan segera meningkatkan  kadar LH di dalam darah sapi dan babi. Pemerahan  yang teratur pada sapi perah tidak begitu menghambat  pelepasan LH dibandingkan  dengan jika dilakukan  dua - duanya yaitu diperah dan anaknya dibiarkan  menyusu.  Sedangkan pada sapi potong penghentian menyusui akan memperbesar  jumlah  LH yang dilepaskan  sebagai respon dilepaskannya  LH-RH.  Kemungkinan  yang lain, terhambatnya  pelepasan LH disebabkan  oleh tingginya level cortisol selama menyusui atau diperah. Pada wanita dan tikus terhambatnya aktivitas ovarium setelah beranak yang disebabkan  oleh menyusui  menyangkut  prolaktin. Level prolaktin yang tinggi menghambat  sekresi gonadotropin selama  laktasi. Tetapi pada sapi dan babi tidak ada bukti bahwa prolaktin itu anti gonadotropik.

 

Kejadian infertilitas pada sapi yang telah berumur  14 -15 tahun, lebih dari 80%-nya mempunyai  korpus luteum abnormal  atau ovarium tidak ada korpus luteum. Ovarium yang tidak berfungsi ini ada hubungannya  dengan salah satu atau semua faktor-faktor berikut ini, yaitu :a. Kegagalan  sel-sel folikel merespon  rangsangan hormon  yang dapat mempengaruhi, b. Perubahan kuantitas dan/atau kualitas sekresi hormon,c. Berkurangnya  stimulus. Anestrus karena proses penuaan mungkin  merubah  fungsi hubungan poros hipotalamus  – hipofise – ovarium,  akibatnya sekresi gonadotropin menurun  atau respon ovarium terhadap rangsangan hormon  berubah.

 

Level energi yang dikonsumsi  mempunyai  pengaruh yang nyata terhadap aktivitas ovarium.  Kekurangan  nutrisi pada ternak betina yang sedang tumbuh menekan  estrus lebih kuat dari pada ternak yang te lah dewasa. Level energi yang rendah menyebabkan  ovarium tidak aktif dan menyebabkan  anestrus pada sapi potong yang sedang menyusui dan pada babi setelah menyapih.  Sapi potong yang beranak pertama, periode anestrus ini dapat diperpendek dengan meningkatkan  konsumsi  energi selama akhir kebuntingan,  mengurangi  frekuensi menyusu menjadi  hanya satu kali per hari, dari 30 hari setelah beranak sampai timbulnya  estrus pertama, menyapih  lebih awal atau memisahkan  pedetnya dalam waktu 72 jam dengan atau tanpa pemberian  progesteron dari luar.

 

Defisiensi mineral  atau vitamin dapat menyebabkan  anestrus. Defisiensi fosfor pada sapi dan domba  menyebabkan  fungsi ovarium terganggu akibatnya terc apainya pubertas tertunda, tanda- tanda estrus tidak jelas dan bahkan tidak pernah menunjukkan  estrus. Tetapi pada sapi dara Holstein dan Jersey yang diberi pakan defisiensi fosfor, baik tanda - tanda estrus maupun kadar progesterone, estradiol atau LH yang diukur sekitar saat estrus tidak berubah (normal),  kec uali kadar fosfor inorgenik  di dalam plasma  darah turun. Babi dara dan sapi yang diberi pakan defisiensi mangan (Mn) menyebabkan  ada gangguan pada ovariumnya  dengan variasi dari tanda-tanda estrus yang tidak jelas sampai anestrus. Defisiensi vitamin A dan vitamin E dapat menyebabkan  tidak teraturnya siklus estrus atau anestrus.

 

Berbagai stress lingkungan  seperti iklim,  tingginya kepadatan ternak di dalam kandang atau penanganan yang berlebihan  saat akan mengawinkan  dapat menekan  estrus, ovulasi, dan fungsi korpus luteum pada domba, babi, dan sapi. Stress akan menaikkan  aktivitas poros otak – pituitari – adrenal akibatnya akan menghambat poros otak – pituitari – gonad. Heat stress pada domba dapat memperpendek  lama estrus dan memperpanjang  lama siklus estrus. T etapi pada perc obaan domba yang mendapat  perlakuan  stress panas selama  6 hari menjelang  perkiraan  estrus, ternyata angka ovulasi dan kesuburannya  tidak terpengaruh.

 

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga bermafaat dan dapat menambah wawasan bagi pengelola peternakan. Dengan mengetahui kejadian anestrus karena factor fisiologis, maka para peternak bisa meminimalisir factor penyebabnya sehingga  ternak yang dipeliharanya menunjukkan tanda estrus sesuai kapasitas genetiknya.